Jangan menyerah belajar matematika…!!!!!

Candi Prambanan Yogyakarta

Candi Prambanan atau disebut juga candi Loro Jonggrang terletak di perbatasan Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta dan Propinsi Jawa Tengah. Kompleks percandian Prambanan terdiri atas latar bawah, latar tengah dan latar atas (latar pusat) yang semakin kearah dalam makin tinggi letaknya. Luasnya berturut-turut 390 m2, 222 m2 dan 110 m2. Candi Prambanan terdiri dari 240 candi.

Banyak sekali aspek matematika yang dapat dieksplor dari candi Prambanan,antara lain:
Candi Prambanan merupakan salah satu obyek geometri yang sangat nyata. Bentuk candi Prambanan menyerupai bentuk piramida yang simetris. Setiap sudut dan tangga pada candi merupakan wujud pengaturan sudut yang sangat teliti. Tangga-tangga menuju tinggi terbilang curam, mendekati sudut tegak. Peletakan candi simetris. Pengubinan pada candi Prambanan terdapat dua jenis yaitu pengubinan dengan menggunakan bentuk beraturan (segiempat untuk ubin yang asli dan segienam untuk ubin yang telah modern. Sedangkan di bagian atas, pengubinan terbuat dari bentuk yang tidak beraturan namun tetap membentuk ubin sempurna seperti puzzle. Dengan mengeksplorasi candi Prambanan banyak sekali yangdapat dikembangkan untuk pembelajaran matematika.

Komplek Candi Prambanan

Jumlah candi dalam Kompleks Candi Prambanan begitu luar biasa,  disusun dalam tiga kelompok ‘bujursangkar’ yang semakin keluar semakin banyak.

Bujursangkar pusat, terdapat 11 candi bermacam ukuran, yang terbesar candi Siwa (Shiva) yang menjulang tinggi hampir 50m. Diapit oleh dua candi untk menghormati Wishnu dan Brahma. Tiga candi lebih kecil duduk di depan candi terbesar, masing-masing didedikasikan untuk kendaraan ketiga dewa : Nandi, sapi, kendaraan Siwa; Hamsa, angsa suci, bagi Brahma; dan Garuda bagi Wishnu.

Bujursangkar kedua ‘mengembang’ secara simetris, terdapat 224 candi lebih kecil lagi yang sama satu dengan lainnya dan dikenal sebagai candi perwara yang berarti pengawal. Candi-candi ini disusun dengan memberikan jalur menuju bujursangkar pusat. Meskipun sebagian besar berupa reruntuhan, hanya beberapa yang direstorasi. Meskipun demikian tidak sulit untuk membayangkan kemegahan yang pernah ada.

Bujursangkat ketiga dan yang terakhir dipagari tembok pada beberrapa tempat, berada pada sumbu berbeda dari dua bujursangkar didalamnya dan tidak terdapat peninggalan bersejarah. Diduga, daerah ini menjadi tempat mempersiapkan persembahan dan tempat berdirinya bangunan tempat tinggal pendeta dan penginapan peziarah. Reruntuhan bangunan tidak tersisa lagi, karena menggunakan bahan bangunan yang tidak tahan lama.

Candi Prambanan dikenal kembai saat seorang Belanda bernama C.A.Lons mengunjungi Jawa pada tahun 1733 dan melaporkan tentang adanya reruntuhan candi yang ditumbuhi semak belukar. Usaha pertama kali untuk menyelamatkan Candi Prambanan dilakukan oleh Ijzerman pada tahun 1885 dengan membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu. Pada tahun 1902 baru dimulai pekerjaan pembinaan yang dipimpin oleh Van Erp untuk candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma. Perhatian terhadap candi Prambanan terus berkembang. Pada tahun 1933 berhasil disusun percobaan Candi Brahma dan Wisnu. Setelah mengalami berbagai hambatan, pada tanggal 23 Desember 1953 candi Siwa selesai dipugar. Candi Brahma mulai dipugar tahun 1978 dan diresmikan 1987. Candi Wisnu mulai dipugar tahun 1982 dan selesai tahun 1991. Kegiatan pemugaran berikutnya dilakukan terhadap 3 buah candi perwara yang berada di depan candi Siwa, Wisnu dan Brahma besarta 4 candi kelir dan 4 candi disudut / patok.

Kompleks candi Prambanan dibangun oleh Raja-raja Wamca (Dinasty) Sanjaya pada abad ke-9. Candi Prambanan merupakan kompleks percandian dengan candi induk menghadap ke timur, dengan bentuk secara keseluruhan menyerupai gunungan pada wayang kulit setinggi 47 meter. Agama Hindu mengenal Tri Murti yang terdiri dari Dewa Brahma sebagai Sang Pencipta, Dewa Wisnu sebagai Sang Pemelihara, Dewa Shiwa sebagai Sang Perusak. Bilik utama dari candi induk ditempati Dewa Shiwa sebagai Maha Dewa sehingga dapat disimpulkan candi Prambanan merupakan candi Shiwa. Candi Prambanan atau candi Shiwa ini juga sering disebut sebagai candi Loro Jonggrang berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis yang jangkung, putri Prabu Boko, yang membangun kerajaannya diatas bukit di sebelah selatan kompleks candi Prambanan.

Bagian tepi candi dibatasi dengan pagar langkan, yang dihiasi dengan relief Ramayana yang dapat dinikmati bilamana kita berperadaksina (berjalan mengelilingi candi dengan pusat cansi selalu di sebelah kanan kita) melalui lorong itu. Cerita itu berlanjut pada pagar langkan candi Brahma yang terletak di sebelah kiri (sebelah selatan) candi induk. Sedang pada pagar langkan candi Wishnu yang terletak di sebelah kanan (sebelah utara) candi induk, terpahat relief cerita Kresnadipayana yang menggambarkan kisah masa kecil Prabu Kresna sebagai penjelmaan Dewa Wishnu dalam membasmi keangkaramurkaan yang hendak melanda dunia.

Bilik candi induk yang menghadap ke arah utara berisi parung Durga, permaisuri Dewa Shiwa, tetapi umumnya masyarakat menyebutnya sebagai patung Roro Jonggrang, yang menurut legenda, patung batu itu sebelumnya adalah tubuh hidup dari putri cantik itu, yang dikutuk oleh ksatria Bandung Bondowoso, untuk melengkapi kesanggupannya menciptakan seribu buah patung dalam waktu satu malam.

Candi Brahma dan candi Wishnu masing-masing memiliki satu buah bilik yang ditempati oleh patung dewa-dewa yang bersangkutan.

Dihadapan ketiga candi dari Dewa Trimurti itu terdapat tiga buah candi yang berisi wahana (kendaraan) ketiga dewa tersebut. Ketiga candi itu kini sudah dipugar dan hanya candi yang ditengah ( di depan candi Shiwa) yang masih berisi patung seekor lembu yang bernama Nandi, kendaraan Dewa Shiwa.

Patung angsa sebagai kendaraan Brahma dan patung garuda sebagai kendaraan Wishnu yang diperkirakan dahulu mengisi bilik-bilik candi yang terletak di hadapan candi kedua dewa itu kini telah dipugar.

Keenam candi itu merupakan 2 kelompok yang saling berhadapan, terletak pada sebuah halaman berbentuk bujur sangkar, dengan sisi sepanjang 110 meter.

Didalam halaman masih berdiri candi-candi lain, yaitu 2 buah candi pengapit dengan ketinggian 16 meter yang saling berhadapan, yang sebuah berdiri di sebelah utara dan yang lain berdiri di sebelah selatan, 4 buah candi kelir dan 4 buah candi sedut.

Halaman dalam yang dianggap masyarakat Hindu sebagai halaman paling sacral ini, terletak di tengah halaman tengah yang mempunyai sisi 222 meter, dan pada mulanya berisi candi-candi perwara sebanyak 224 buah berderet-deret mengelilingi halaman dalam 3 baris.

Gempa bumi 2006

Pada 27 Mei 2006 gempa bumi dengan kekuatan 5,9 pada skala Richter (sementara United States Geological Survey melaporkan kekuatan gempa 6,2 pada skala Richter) menghantam daerah Bantul dan sekitarnya. Gempa ini menyebabkan kerusakan hebat terhadap banyak bangunan dan kematian pada penduduk di sana. Salah satu bangunan yang rusak parah adalah kompleks Candi Prambanan, khususnya Candi Brahma

CANDI PRAMBANAN merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia, berketinggian 47 meter, dibangun pada abad 9. Letaknya berada 17 km arah timur Yogyakarta di tepi jalan raya menuju Solo. Candi yang utama yaitu Candi Siwa (tengah), Candi Brahma (selatan), Candi Wisnu (utara). Didepannya terletak Candi Wahana (kendaraan) sebagai kendaraan Trimurti; Candi Angkasa adalah kendaraan Brahma (Dewa Penjaga), Candi Nandi (Kerbau) adalah kendaraan Siwa (Dewa Perusak) dan Candi Garuda adalah kendaraan Wisnu (Dewa Pencipta).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: